9 Kesalahan Orang Tua Dalam Menanamkan Kedisiplinan Pada Anak

Share

Adimia Rila Oktoga

9 Kesalahan Orang Tua Dalam Menanamkan Kedisiplinan Pada Anak

Satu hal yang perlu ditanamkan di benak orang tua saat mendisiplinkan anak-anaknya adalah bahwa kedisiplinan merupakan cara untuk mengajarkan anak pelajaran kehidupan dan bukan sebagai alat untuk menghukum anak.  Menanamkan kedisplinan itu sendiri merupakan proses yang terdiri dari beberapa hal, yaitu :
 
1. Pengajaran.
Orang tua menunjukkan dan mengajarkan perilaku yang baik dan alternatif perilaku yang lebih “tepat”. kepada anak.
 
2. Penetapan Aturan dan Batasan.
Beberapa orang tua beranggapan bahwa dengan memberikan aturan dan batasan anak, akan membuat anak menjadi tidak bahagia. Anggapan tersebut adalah SALAH BESAR, karena tanpa adanya batasan dan aturan yang jelas, anak akan merasa tidak aman, kebingungan juga akan menyulitkan mereka untuk beradaptasi di lingkungan luar nantinya.
 
3. Pengoreksian Perilaku.
Ketika anak diajarkan kedisiplinan dengan cara yang positif, logis namun tetap penuh kasih maka mereka akan belajar bertanggung jawab atas tindakan yang mereka lakukan.  Misalnya ketika anak tidak melakukan tugas membereskan kamar sesuai dengan yang telah disepakati padahal sudah diingatkan oleh orang tuanya selama beberapa kali, anak akan kehilangan waktunya menonton TV. Ketika aturan dan konsekuensi yang akan diterimanya jelas, spesifik dan logis,  anak akan belajar unuk mendisiplinkan dan mengatur tindakannya sendiri.
 
4. Menunjukkan Rasa Sayang dan Menghargai.
Bagaimana anda selaku orang tua ingin diperlakukan oleh anak, maka seperti itu pulalah cara yang harus anda tunjukkan kepadanya terutama saat anda mendisiplinkan mereka. Pastikan anak memahami bahwa meskipun anda tidak menyukai apa yang ia katakan/lakukan namun anda tetap menyayangi dan menghargainya. Dengarkan pendapatnya kemudian jelaskan tingkah laku yang benar seperti apa disertai alasannya
 
5. Konsisten.
Jika anda selaku orang tua menerapkan aturan tertentu tapi ketika anak melanggar aturan itu anda mengabaikannya atau sebaliknya, anda menghukum padahal biasanya anda memperbolehkan, tentunya hal ini akan membuat anak anda jengkel dan bingung. Kekonsitenan perilaku anda selaku orang tua adalah hal terpenting dalam menanamkan kedisplinan, karena membuat anak menjadi paham perilaku seperti apa yang diharapkan oleh orang tua dan anak pun bisa memahami/memperkirakan perilaku orang tuanya.
 
6. Kerja Sama.
Kedisplinan anak itu bukan bersumber dari kediktatoran orang tua dalam mengatur perilaku anak. Orang tua bisa berdiskusi dengan anak, meskipun masih berusia 5 tahun. Berikan kesempatan anak untuk mengungkapkan pendapatnya atas aturan yang berlaku di rumah dan konsekuensi tingkah laku yang menyertai jika aturan dilanggar. Hal ini penting untuk menunjukkan bahwa anda selaku orang tua menghormati anak pemikiran, perasaanya. Juga mengajarkan pada mereka bahwa opini setiap anggota keluarga adalah hal yang penting untuk dihargai. Diskusi ini penting agar anak paham pentingnya aturan dan keuntungan aturan itu bagi dirinya. Pemahaman yang tepat penting sebagai dasar untuk masa depan anak, dimana nantinya ketika mereka dewasa, mereka bisa membuat keputusan yang baik untuk diri mereka sendiri.
 
9 Kesalahan yang sering dilakukan orang tua saat menanamkan kedisiplinan pada anak :
 
1. Tidak Mengargai Anak.
Anda selaku orang tua mengharapkan anak untuk menghormati dan menghargai anda, namun seringkali melupakan bahwa menghargai itu bersifat dua arah. Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan adalah dengan berbicara dengan membentak, mengeluarkan “cap-cap” negatif kepada anak misalnya “dasar anak nakal, kuping kamu ga bisa denger ya!!!!”, kembali mengungkit kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan sebelumnya setiap kali ia melakukan suatu kesalahan baru.
Perlakukan anak anda, terutama bagi mereka yang sudah beranjak remaja, dengan cara yang sama seperti yang ingin anda alami ketika orang lain menegur anda misalnya rekan/atasan kantor, keluarga. Membungkuk atau berjongkoklah menyesuaikan tinggi badan anda dengan tinggi mata anak anda, sehingga ia tidak perlu mendongak terus-menerus saat anda bicara. Tatap matanya dan diskusikan masalahnya dengan tenang, menghargainya namun tetap tegas.
 
2. Mendisplinkan Sambil Marah.
Hukuman fisik seperti pukulan, cubitan atau bentakan memang terlihat lebih efektif untuk menghentikan “sementara” kenakalan yang dilakukan oleh anak, tapi hal tersebut hanya akan menjadikan anak takut  terhadap hukuman namun tidak paham mengapa perilaku mereka itu salah. Poses pengembangan kontrol diri anak menjadi tidak berjalan optimal dan akibatnya mereka akan kembali mengulang kembali perilaku negatif tersebut di kemudian hari saat orang tua mereka tidak ada.
Penting untuk diingat, bahwa tetap tenang agar bisa terus berpikir jernih adalah aspek penting dalam proses membetulkan perilaku yang salah.  Saat anda selaku orang tua bersikap tenang maka anda akan dapat menjelaskan dengan lebih baik kepada anak alasan mengapa tindakan pendisplinan perlu diberikan kepadanya, apa yang membuat anda merasa kecewa dengan tindakan “nakal”nya, dan alternatif tindakan yang lebih baik yang bisa dilakukannya agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Anak akan menjadi lebih paham dan menyadari bahwa tindakan mereka salah, dan orang tua menegur  karena rasa sayang.
Ambil waktu time-out menjauh sebentar dari anak untuk menenangkan diri anda dan mengatur kembali pemikiran anda sebelum akhirnya anda bicara dengannya. Kendalikan diri anda, seberapa pun marahnya anda tetaplah tenang, jangan berteriak, melakukan kekerasan fisik dan mengeluarkan komentar-komentar yang merendahkan anak.
 
3. Tidak Konsisten.
Jika anda menegur anak anda karena ia tidak membersihkan kamarnya sehingga kamarnya berantakan namun kesempatan lain anda membiarkannya namun di bulan berikutnya anda menghukumnya karena kamarnya kotor. Maka anak akan mendapatkan pesan yang tidak jelas.
Berikan anak arahan yang jelas, sederhana dan realistis akan tingkah laku yang diharapkan dilakukannya. Misalnya jika anda menginginkannya untuk membersihkan kamarnya sendiri setiap 1 minggu sekali di setiap Jumat sore maka tandai kalendernya di setiap hari Jumat sebagai hari membersihkan kamar. Persiapkan ia untuk melakukan perilaku yang positif dan jika ia tidak melakukannya maka berikan ia konsekuensi yang akan ia terima secara konsisten, misalnya tidak boleh main PS selama waktu tertentu.
 
4. Berbicara /Menjelaskan Secara Panjang Lebar.
Sangat penting untuk menjelaskan kepada anak alasan mengapa perilaku yang ia lakukan negatif sehingga ia paham betulk mengenai kesalahan agar nantinya ia tidak melakukan kesalahan yang sama.  Namun penjelasan yang terlalu panjang dan “berputar-putar” tidaklah tepat diberikan untuk anak. Fokus perhatian anak masihlah sangat mudah teralihkan, sehingga  tidak semua informasi dapat mereka terima secara lengkap terlebih lagi jika informasinya terlalu panjang.
Untuk anak yang lebih besar, beri penjelasan apa yang salah kemudian disksuikan dengannya alternatif perilaku positif yang bisa ia lakukan. Sedangkan untuk anak yang lebih muda, sebutkan apa yang salah dan alasan kenapa perilaku itu salah secara simpel.
Misalnya“ Adek tadi masuk ke kamar abang, terus Adek mainin robot-robotan punyanya Abang tanpa minta izin dulu ke Abang,  Jadinya Abang marah deh. “
 
5. Menjadi Negatif.
Mendengar serentetan larangan “Jangan begini!”; “Jangan begitu!”; “Tidak boleh ini!”; “Tidak boleh itu” tentunya bukan hal yang menyenangkan untuk siapapun, terlebih lagi untuk anak. Lakukan pendekatan secara lebih positif , dengan memberikan alternatif perilaku yang baik dilakukan.
 
6. Berpikir Bahwa Mendisplinkan Anak Sama dengan Memberikan Hukuman.
Mendisiplinkan anak bukan berpusat pada memberikan hukuman akan perilaku buruk tapi lebih pada membimbing mereka ke perilaku yang positif. Tapi hal ini bukan berarti ketika anak melanggar aturan lantas diabaikan. Harus ada konsekuensi yang jelas dan konsisten diberikan ketika anak melanggar aturan. Konsekuensi itu bisa berupa berkurangnya kesempatan anak untuk melakukan kegiatan ekstra yang mereka sukai. Hukuman yang tidak logis seperti dikunci di dalam kamar mandi, dibiarkan di ruangan gelap hanya akan menimbulkan trauma pada anak. Hal yang perlu diingat adalah konsekuensi diberikan sebagai cara untuk mengoreksi perilaku anak dan bukan sebagai alat kemarahan orang tua karena melihat perilaku negatif anak.
 
7. Orang Tua Tidak Melakukan Tingkah Laku yang Sesuai
Misalnya anda menginginkan anak untuk bersikap sabar terhadap temannya namun anda sendiri sering bersikap tidak sabar dan mudah marah dengannya, anda ingin anak rajin beribadah namun anda sendiri tidak melakukannya dsb. Tentunya hal ini akan menimbulkan kebingungan pada diri anak.
Jadi jika orang tua ingin anak disiplin dalam melakukan tingkah laku tertentu maka selaku orang tua anda pun harus konsekuen dan konsisten melakukan tingkah laku tersebut. Jika anda melanggar aturan yang anda buat sendiri, maka jangan segan untuk meminta maaf kepada anak, jelaskan alasan mengapa anda melakukan tindakan tersebut, diskusikan dengannya alternatif tingkah laku positif yang bisa dilakukan, buat janji dengan anak untuk tidak melakukannya lagi di kemudian hari dan upayakan untuk benar-benar memenuhi janji tersebut.
 
8. Sikap Otoriter.
Menetapkan aturan dan batasan bukan berarti tidak memberi kesempatan pada anak untuk membuat pilihan atau menjadikan anak takut untuk mengeksplorasi lingkungan karena takut melakukan kesalahan. Anak yang dididik disiplin dengan cara positif memahami bahwa pendapat mereka akan didengar dan dihargai meskipun orang tua tidak selalu setuju dengan pendapat tersebut. Hal ini akan membantu rasa percaya diri anak dalam mengeksplorasi dan berkembang, sehingga pada akhirnya bisa membedakan hal-hal yang negatif-berbahaya dengan hal-hal positif-bermanfaat untuk mereka lakukan.
 
9. Sikap Permisif dan Sama Sekali Tidak Mendisiplinkan Anak.
Membiarkan anak melakukan tingkah laku apapun sekehendak hatinya memiliki dampak yang jelek di kemudian harinya. Anak yang tidak diberikan batasan dan konsekuensi oleh orang tuanya akan tumbuh menjadi anak manja, egois, seenaknya dan tidak bisa mengatur dirinya sendiri. Hal ini tentu akan menyulitkan adaptasi anak dengan lingkungan.
Ketika orang tua menunjukkan kepada anak tingkah laku apa saja yang pantas/tepat dilakukan. Perlakuan anda selaku orang tua yang penuh cinta kasih namun tegas dan jelas dalam memberikan batasan dan harapan pada anak akan membentuk rasa aman pada diri anak ini dan menjadikannya nyaman saat berada di lingkungan.

Adimia Rila Oktoga, S.Psi, M.Psi, Psikolog