Cerdas Melalui Baca

Share

Dian Handiyani

Cerdas Melalui Baca

Masyarakat Indonesia banyak yang memiliki IQ yang tinggi. Pandai di sekolah, nilai akademik yang dicapai tinggi, tetapi tidak cerdas. Ia lambat mengabil keputusan dalam bertindak, lamban bereaksi terhadap persoalan baru di luar akademik, dengan penyelesaian tugas dengan  waktu yang lama. Cerdas merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang dengan waktu yang cepat dan hasil yang tepat. Perlu dipikirkan penyebab dari IQ yang tinggi tetapi tidak cerdas.
 
Kecenderungan kurang mau membaca merupakan salah satu kendala dari kecerdasan ini tidak tumbuh. Dari baca, akan diperoleh pengetahuan yang luas, ada kesempatan untuk melatih pikiran untuk mengkritisi suatu persoalan yang dapat mengembangkan kemampuan menyelesaiakan persoalan. Kebiasaan baca akan tumbuh pemikiran kritis, timbul ide-ide baru, kreativitas berkembang sesuai dengan potensi intelektual yang dimiliki. Terpikirkah proses perkembangan berpikir pada anak ini oleh ibu/orang tua, guru oleh Pemerintahan dibidang pendidikan?
 
Pengembangan persepsi auditif diberikan melalui dikte, perkembangan persepsi visual, dan penegnalan konsep-konsep diberikan melalui pengenalan bentuk-bentuk nyata, gambar-gambar, dan bermain puzzle, namun pemahaman ucap tidak disentuh dalam mengajarkan persiapan baca. Ucap merupakan aktivitas gerakkan otot-otot mulut yang mengeluarkan bunyi disaat anak melihat tulisan atau ada kata yang akan dibicarakan. Ucap dibunyikan, seolah-olah sangat bergantung pada masing-masing anak. Tidak pernah disadari bahwa pengucapan dalam baca dibutuhkan pengucapan yang tepat, terbukti tidak sedikit siswa SD diatas kelas 2, siswa SMP dan juga siswa SMA pada  Bangsa Indonesia ditemukan  membaca dengan mengeja. Berdasarkan teori perkembangan mengeja dipelajari pada kelas satu SD.
 
Mengeja, berarti anak sibuk memahami cara pengucapan dari kata yang dibaca, berarti belum mempelajari isi bahan bacaan.Anak membaca, tetapi pengetahuan masih harus dijelaskan, karena selama anak membaca ia tidak paham makna dari setiap kalimat yang dibaca(sibuk memikirkan pengucapan yang benar dari kalimat yang di baca). Kebutuhan dijelaskan kembali bukan yang hanya berkaitan dengan bidang akademik tetapi juga bahan bacaan lain, kecuali membaca komik.
 
Biro Konsultasi Dwipayana, mengadakan seminar bersama orang tua, guru dan profesi psikologi, dengan tujuan bersama-sama berpikir bagaimana mencerdaskan anak didik melalui baca. Diulas dalam seminar keterkaitan cerdas dan baca, dibuktikan melalu video mengenai kesulitan baca dari  siswa SD kelas 3, kelas 5  dan SMP yang diulas secara rinci oleh peserta melalui  diskusi kelompok. Kesan peserta dari profesi guru mengenai seminar, insyaallah akan merubah sikap dalam memberi pembelajaran di    sekolahnya masing-masing dan orang tua menyadari bahwa selama ini kurang member kesempatan pada anaknya mengembangkan keterampilan berpikir maupun keterampilan beraktivitas.