Menghadapi Anak Pemarah

Share

Andhitia Rama

Menghadapi Anak Pemarah

Share

Sifat pemarah pada anak dapat muncul karena berbagai alasan. Hal ini dapat bergantung pada umur dan tahapan pertumbuhan yang dilalui si anak. Kendati sifat seperti itu tampaknya kerap dialami oleh sebagian besar balita, beberapa orang tua masih harus menghadapi sikap keras itu bahkan hingga si anak menginjak usia lima atau enam tahun. Anak-anak usia balita memiliki keinginan tertentu yang tidak dapat atau tidak ingin untuk selalu dipenuhi oleh ayah atau ibunya. Umumnya balita tetap bersikeras agar keinginannya itu dipenuhi. Ketika si anak telah mengerti apa kemauannya, biasanya orang tua menghadapi masalah ketika harus menjelaskan kepada buah hati mereka itu mengapa mereka tidak dapat memperoleh apa yang diinginkan. Dan saat itu tuntutan si anak dan keinginan orang tua beradu, saat itulah ledakan amarah itu terjadi. Pemicu kemarahan anak dapat beragam, namun yang paling sering adalah perasaan frustasi, keadaan lelah dan penolakan.
 
1.  Masa Balita
Pada masa ini biasanya memiliki keinginan yang kuat untuk bersikap mandiri namun dengan kemampuan yang “terbatas”. Di satu sisi perkembangan motorik mengalami kemajuan yang pesat namun masih belum disertai pengarahan gerakan yang baik. Hal ini biasa menimbulkan frustasi saat anak sedang melakukan suatu aktivitas, sementara ia belum memiliki kemampuan mengendalikan diri untuk menahan amarahnya. Pada saat itu orang tua harus memiliki perencanaan dan harus belajar membaca situasi dan bertindak sesuai dengan kondisi itu. Misal memberikan banyak kesempatan pada anak untuk melakukan aktivitas yang diinginkan namun tetap mendampinginya. Atau pada keadaan ketika anak balita anda tengah bermain dengan mainannya dan makanan akan siap 15 menit lagi, berilah interval waktu untuk mengingatkannya agar ia tidak kaget dan lebih bisa “mempersiapkan diri”.
 
2.  Usia Prasekolah
Anak-anak di usia ini telah mengalami perkembangan kemampuan bahasa sehingga mampu mengungkapkan keinginannya “Ketika si anak marah, cari tahu penyebabnya dan cobalah selesaikan masalahnya melalui diskusi dengan bahasa yang mudah dipahami”.   Misalnya ketika si anak menolak diajak kedokter. Dengan perlahan katakan bahwa kita memahami mengapa ia menolak. Namun berikan juga alasan yang konkret dan bisa mereka cerna mengenai pentingnya saat itu harus kedokter dengan penjelasan yang positif. Tentunya hal ini dilakukan saat kondisi anak sudah tenang. Namun jika cara ini tidak berhasil, maka orang tua dapat mencairkan situasi dengan memberikan “reward” jika ia bersikap baik, misalkan kita akan membacakan buku cerita baru sepulangnya dari dokter dengan kata-kata yang menenangkan untuk meredakan kemarahannya.
 
3.  Usia Sekolah
Sebenarnya intensitas sikap pemarah telah amat menurun saat anak menginjang usia lima tahun keatas. Anak usia lima sampai delapan tahun mungkin saja masih menggunakan senjata tangisan dan hentakan kaki saat marah. Tapi karena ia telah menginjak usia itu, mereka harus diajarkan agar dapat mengendalikan rasa marahnya lebih cepat ketimbang anak dibawah usianya. Pada kondisi ini juga orangtua diharapkan dapat memahami perasaannya dan membiarkan anak mengungkapkan perasaannya. Orang tua juga dapat mengantisipasi konflik yang dialami anak usia sekolah dengan menggunakan perencanaan dan aturan-aturan yang telah didskusikan dan disepakati dengan anak. Jika kemarahan anak masih meledak, maka orangtua dapat meminta bantuan psikolog untuk memastikan pemicu kemarahan anak beserta penanggulangannya.       
Bagi para orang tua, salah satu masalah tersulit dalam menghadapi anak pemarah adalah menahan emosi. Karena amarah dapat memicu siklus respon balik. Kita akan terpancing untuk marah dan anak akan bertambah marah. Jika dirasa kita sulit mengkontrol diri, maka hindarilah kondisi itu sejenak, menenangkan diri dan mencoba berpikir tindakan apa yang tepat yang akan kita lakukan berikutnya. Berusahalah sedapat mungkin agar dapat menahan marah dan bersabar. Memang tidak mudah. Tapi yakinlah semuanya akan membuahkan hasil yang manis.

Dian Handiyani, Psi, Psikolog
(Psikolog Biro Konsultasi Psikologi DWIPAYANA Bandung)