Tips Memilih Sekolah

Share

Prita Pratiwi

Tips Memilih Sekolah

"Anakku akan dimasukkan ke sekolah mana ya?" 
"Sekolah inklusi?" 
"Sekolah negeri?" 
"Sekolah islam terpadu?" 
"Sekolah umum?" 
"Full day school?" 
"Atau sekolah bilingual?" 

Kata ibu A,, sekolah X bagus,, tapi kata ibu B,, sekolah X membuat anak menjadi malas,, prestasinya turun terus.. 
Kata ibu C,, sekolah Y bagus banget,, anaknya bisa berkembang,, sementara kata ibu D,, di sekolah Y justru anaknya menjadi tidak mau sekolah 

"JADI SEKOLAH MANA DONG YANG PALING TEPAT UNTUK ANAK SAYA?" 


Tampaknya pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang sedang “in” saat ini. Ingin anak selalu mendapat dan menjadi YANG TERBAIK membuat orang tua, khususnya ibu, menjadi bingung memilih sekolah yang paling baik untuk anak. Sebenarnya, hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan untuk memilih sekolah? 

Berikut adalah tips-tips yang dapat orang tua (khususnya ibu-ibu) pertimbangkan sebelum membuat keputusan : 

MENETAPKAN TUJUAN

Point pertama ini merupakan point yang paling penting. Yang dimaksud dengan menetapkan tujuan adalah “harapan” atau keinginan orang tua mengenai masa depan anak. “Kami (orang tua) ingin anak kami menjadi seperti apa (atau menjadi apa)?”. Orang tua perlu secara konkret membayangkan tujuan ini. Jangan hanya berharap ingin menjadi “ANAK YANG BAIK”, karena “BAIK” menurut orang tua yang satu akan sangat berbeda dengan “BAIK” menurut orang tua yang lain. 

MENGENALI “TIPE” SEKOLAH 

Orang tua perlu memahami visi-misi dari setiap sekolah. Biasanya, sekalipun sama-sama bertajuk “Sekolah Islam Terpadu” atau “Sekolah Inklusi” atau “Full Day School”, setiap sekolah memiliki gaya, metoda, cara pengajaran, dan “pembelajaran” yang berbeda. Ada yang memberi PR setiap hari namun keesokan harinya tidak diperiksa, ada yang yang memberi PR dan akan diperiksa keesokan harinya, ada yang sangat memperhatikan kedisiplinan dalam hal “waktu” (misalnya terlambat 5 menit tidak boleh masuk dan harus menunggu sampai jam pelajaran berikutnya; namun juga ada yang sampai dengan memberikan hukuman – yang mana hukuman akan bervariasi antara satu sekolah dengan yang lain – ada yang memberi hukuman dengan meminta anak untuk menyapu dan mengepel WC, berdiri di depan tiang bendera sambil hormat bendera, atau berdiri di kelas lain); dan lain sebagainya. 
Disisi lain, orang tua juga perlu memahami bagaimana sekolah menerapkan pembelajaran untuk “mengejar” kurikulum yang sudah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan. Misalnya : untuk sekolah inklusi, orang tua perlu paham frame inklusi menurut sekolah tersebut seperti apa, bagaimana guru meng-handle anak, apakah sekolah menerapkan disiplin yang ketat, dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, orang tua juga perlu memiliki pengetahuan mengenai perbedaan berbagai sekolah (sebelum bertanya langsung pada sekolah yang bersangkutan), karena hal ini membantu orang tua untuk compare mengenai frame yang sudah dimiliki dengan sekolah yang di-“incar”. 

MEMAHAMI “KONDISI” ANAK 

Orang tua perlu memahami kelebihan-kekurangan anaknya yang dikaitkan dengan perkembangan berbagai aspek diri. Misalnya : anak dengan indikasi gangguan konsentrasi atau disertai hiperaktivitas adalah anak yang tidak tahan untuk mempertahankan rentang atensi dalam jangka waktu lama. Artinya, ia akan dengan mudah ter-distrak dengan stimulus dari luar, terutama saat sudah merasa lelah. Ketika orang tua (atau ibu) paham dengan kondisi ini, perlu dipertimbangkan apakah “FULL DAY SCHOOL” merupakan sekolah yang paling tepat untuk anak? Atau anak dengan kemampuan pemahaman huruf atau kata yang masih belum berkembang baik; apakah cocok ketika dimasukkan ke sekolah Bilingual? 

MENGETAHUI BIAYA 

Hal terakhir yang juga tidak kalah penting adalah mengetahui biaya yang akan dikeluarkan untuk sekolah. Berapa uang bangunan, uang pangkal, uang sekolah yang harus dibayar setiap bulan, atau uang lain yang harus dikeluarkan diluar biaya “WAJIB”. 


TIPS & TRICK : 

- JANGAN RAGU UNTUK MELAKUKAN SURVEY. Survey sangat dibutuhkan untuk mengetahui kondisi guru dan sekolah yang akan dimasuki anak. 
- Terkadang suami menyerahkan pendidikan sepenuhnya pada istri. Suami tidak terlalu memberikan kontribusi untuk membantu memilih sekolah yang paling tepat. Dalam keadaan ini, istri perlu mempersiapkan informasi atau hal-hal yang menjadi bahan pertimbangan (setelah melakukan survey) pada suami agar diskusi tetap dapat dilakukan karena pada dasarnya, suami bukan tidak mau membantu memilih, namun ia berada dalam kondisi bingung (sama seperti jika istri ditanya “mau beli batu bata untuk membangun rumah dimana?” pasti jawabannya juga akan “TERSERAH” J ). 
- Sadari bahwa tidak ada sekolah yang sempurna. Setiap sekolah pasti memiliki kelebihan-kekurangan. Oleh sebab itu, stimulasi atau pengembangan anak tetap harus diberikan di rumah. Orang tua TIDAK BOLEH menyerahkan sepenuhnya proses pendidikan pada sekolah, karena pada dasarnya sekolah hanya memberi kontribusi sebesar 30% dan 70% sisanya adalah melalui interaksi di rumah. 
- Ajak anak untuk melihat kondisi sekolah. “Senang” dan :merasa betah” di sekolah merupakan salah satu hal yang dibutuhkan anak agar ia tertarik dan semangat untuk masuk. 
- Pahami kelebihan-kekurangan anak. Jangan ragu untuk melakukan “pemetaan” potensi agar lebih memahami hal-hal yang dapat dilakukan sebagai sarana optimalisasi pengembangan anak. 
- Jangan ragu untuk share dengan orang lain namun dengan tetap memiliki “pengetahuan” mengenai hal-hal yang akan “dibagi” atau didiskusikan dengan teman sehingga tidak mudah “terbawa arus” dan tetap memiliki pemahaman yang tepat mengenai “sekolah”. 

Prita Pratiwi, S.Psi, M.Psi, Psikolog